Rabu, 20 Juni 2012

Arti Cinta Sesungguhnya part 2


ARTI CINTA SESUNGGUHNYA
PART 2


                Tak terasa setahun sudah Arya pergi dari hidup Nadia dan sudah setahun pula Nadia kuliah di Jurusan Pertanian di UGM. Minggu depan ia sudah libur akhir semester dan ia berencana untuk berlibur ke Jakarta tepatnya pulang ke kampung halamannya.
                Sore ini ia sangat terburu-buru bangun dari tidur siangnya karena ia harus mengurus beberapa proposal sekolah. Dengan secepat kilat ia bergegas ke kamar mandi untuk mandi lalu ia segera turun dari kamarnya menuju lantai satu untuk berpamitan pada tantenya yaitu tante Risma. Maklum, di Yogyakarta ia memang tinggal di rumah tantenya.
                “Sore, tante.” Sapanya pada tante Risma sambil menuruni anak tangga.
                “Sore, sayang. Udah bangun kamu? Nggak makan dulu? Tadi kan kamu belum sempat makan siang?” tanya tantenya dari balik sofa dekat ruang keluarga.
                “Nggak usah tante. Nadia makan di kampus aja. Entar Nadia telat lagi.” Nadia lalu masuk ke dapur dan mengambil dua helai roti lalu cepat-cepat ia masukkan ke dalam mulutnya.
                “Lho, bukannya kamu udah selesai ulangan semester? Emang ada apa lagi di kampus?”
                “Ada urusan organisasi yang harus Nadia kerjakan tante.” Jawabnya samar-samar karena mulutnya penuh dengan roti karena itu Nadiapun tersedak. “Uhuk…. Uhuk.” Ia menepuk-nepuk dadanya dengan telapak tangannya. Cepat-cepat ia minum air yang ada di sampingnya.
                “Kamu tuh ya, kalau makan jangan ngomong dulu. Gitu kan akibatnya.”
                “Hehehe. Ya udah. Aku pergi ke kampus dulu ya, tan. Nanti Oliv, biar aku aja yang jemput. Aku pulang jam 5 sore kok. Jadi bisalah mampir dulu ke tempat les Oliv.” Oliv adalah anak dari tante Risma yang tak lain juga sepupu Nadia.
                “Ya, sudah. Makasih ya, Nad.”
                “Sama-sama, tante.” Nadia pun berpamitan dan mencium tangan tantenya. “Assalammualaikum.”
                “Wa’alaikum salam. Hati-hati di jalan. Jangan ngebut!” Peringat tantenya.
                “Ya, tante.” Teriak Nadia dari luar rumah.
                Nadia mengambil mobilnya yang berwarna biru di garasi rumah. Kemudian ia langsung tancap gas menuju kampusnya. Kurang dari setengah jam lagi rapat akan dimulai, kalau dia tidak cepat-cepat berangkat maka bisa-bisa Nadia telat datang. Dalam perjalannannya yang lumayan jauh tiba-tiba bayangan Arya datang menghampiri. Dalam hati ia bertanya, “Kenapa ya Allah bayangan itu selalu datang disaat yang tidak tepat seperti ini? Aku harus konsen mengemudi. Tapi walau bagaimanapun aku memang merindukannya. Apa dia disana juga merindukanku?” dengan sebal Nadia menekan tombol on pada mp3 player di mobilnya. Lagu Rindu dari Kerispatih pun mengalun dengan merdu….

                Bintang malam katakan padanya
                Aku ingin melukis sinarmu dihatinya
                Embun pagi katakan padanya
                Biar kudekap erat waktu dingin membelenggunya
                Bintang malam sampaikan padanya
                Aku ingin melukis sinarmu dihatinya
                Embun pagi katakan padanya
                Biar kudekap erat waktu dingin membelenggunya
                Taukah engkau wahai langit
                Aku ingin bertemu membelai wajahnya
                Kan kupasang hiasan angkasa yang terindah hanya untuk dirinya
                Lagu rindu ini kuciptakan hanya untuk bidadari hatiku tercinta
                Walau hanya nada sederhana
                Izinkanku ungkap segenap rasa dan kerinduan…

                Tanpa Nadia sadari matanya mulai berkaca-kaca dan menitikkan butir-butir kristal air mata. “Andai kamu tahu, Ar. Aku sangat merindukanmu disini. Bahkan bayangan wajahmu masih begitu jelasnya teringat dalam benak dan hatiku. Tak ada sedetik pun waktuku terbuang tanpa memikirkanmu. Dulu aku tak pernah begitu menghiraukan perasaanku. Tapi kini semuanya terasa sangat menyakitkan. Hidup jauh darimu. Hidup jauh dari Dinda sahabatku. Semuanya menyakitkan!” ingin sekali Nadia berteriak dalam sisa-sisa tangisannya. Tapi yang keluar dari mulutnya hanyalah rengekan dan sendu sedan menahan derasnya air mata yang mengalir dari matanya. 
&&&
                Pagi ini Arya bangun dari tidurnya dengan rasa sakit yang menyergap di tangannya. Ia teringat hari kemarin. Sore hari waktu ia berjalan pulang menuju appartementnya yang tidak begitu jauh dari kampusnya ia bertemu dengan segerombolan penjahat yang tengah menodong seorang anak kecil. Dan perkelahianpun tak bisa dihindari. Arya sangat berjiwa sosial. Ia selalu membela yang lemah dan membantu yang kesusahan.
                Ia melirik jam alarm yang ada di meja samping tempat tidurnya. Jam menunjukkan pukul 07.00 a.m. Ia pun bergegas untuk mandi. Perih ia rasakan, tapi tidak pernah ia hiraukan. Siang ini ia berncana ke dokter untuk mengobati luka di tangannya.
                Selesai mandi ia langsung ganti baju dan sarapan di kamarnya. Seorang pelayang appartemennya menyapanya dengan senyum ceria.
                (dalam bahasa Perancis)
                “Selamat pagi, Tuan. Apa tidur Anda nyenyak semalam?”
                “Pagi. Yah, seperti yang kau lihat, August tanganku sakit sekali hingga terasa perih setiap ku gerakkan.” August seorang pelayan appartement membawakan makanan Arya ke meja makan.
                “Ah, semoga lekas sembuh, Tuan.”
                “Terima kasih untuk perhatianmu.” August adalah pelayan pribadi khusus untuk Arya. Karena Arya tak mengizinkan pelayan perempuan masuk ke kamarnya. Walau ia tinggal di Negara Barat, ia masih tetap mengedepankan adat Ketimurannya.
                “Menu makanan anda pagi ini, Tuan. Nasi putih, Lobster goreng saus tiram, dan minumnya ada es jeruk.” August mulai menata makanan di atas meja, sementara Arya mengambil tas di kamarnya. “Terima kasih, August.” Arya keluar dari kamarnya dan memberikan uang tip untuk August.
                “Tidak, Tuan. Terima kasih. Uang tip kemarin masih ada. Anda begitu baik pada saya.” Dengan tulus August menolak tawaran Arya. “Hahaha. Kau ini. Ya, sudah. Terima kasih banyak, ya.”
                “Sama-sama, Tuan. Semoga hari anda menyenangkan.” August keluar dari appartement Arya dan Arya pun mulai menikmati sarapannya. Kini ia kuliah di salah satu Universitas di Sorbone, Perancis dan ia mengambil Jurusan Administrasi Bisnis.
                Disela-sela Arya menikmati sarapannya, ia kembali teringat akan kenangan di masa akhir SMA-nya. Begitu ia rindukan senyuman, tatapan, dan kebaikan gadis itu. Setahun telah berlalu, tapi rasa itu tak pernah padam. Bahkan semakin bertambah banyak. “Sedang apa ya kamu sekarang, Nad? Dan bagaimana kabarmu disana? Aku merindukanmu dan sahabat kita, Dinda.” Pikirnya dalam hati. Ia tersenyum sendiri mengenang masa-masa SMAnya. Ia lihat jam di tangannya. Pukul 8 tepat, dengan segera Arya turun dari appartementnya dan mengambil mobil di parkiran gedung itu. Cepat-cepat ia tancap gas menuju sekolahnya. “Ayo, kita selesaikan ulangan terakhir ini.” Katanya dari balik kemudi.
&&&
                 Nadia keluar dari mobilnya dengan mata sembab karena habis menangis. Ia mengambil tishu di dalam tasnya dan menghapus sisa-sisa air mata di pelupuk matanya. Buru-buru ia masuk ke dalam gedung pertemuan tempat para anggota organisasi berkumpul. Baru saja ia melangkah masuk ke dalam gedung, ia sudah disapa oleh Miraldi, salah satu anggota organisasi. “Ah, baru saja aku akan mencarimu. Sedari tadi anak-anak sudah berkumpul. Rapat akan berlangsung, tapi kami masih menunggu kehadiranmu.”
                “Em,,, maaf, Miral. Aku tadi bangun tidur kesorean. Maaf banget, ya?” ucap Nadia parau. Nadia lalu melangkahkan kakinya ke dalam ruangan. Tapi tangannya di sentuh oleh Miral. “Kau kenapa? Matamu sembab. Habis menangis, ya?”
                “Eh, aku nggak apa-apa kok, Miral. Cuma kelilipan aja. Di luar banyak sekali debu beterbangan. Hehehe.” Nadia berusaha menyembunyikan perasaannya. “Em, ayo, Miral. Nggak usah kamu pikirin. Ayo rapat. Tadi katanya rapatnya mau dimulai. Ayo cepat!” ucap Nadia yang berusaha menghalau rasa malu karena dari tadi Miral memandanginya. Miraldi pun tersadar. “Oh, oke. Ayo ayo!” keduanya pun masuk ke dalam ruangan yang sudah dipenuhi banyak orang.
&&&
                Jam menunjukkan pukul 20.00, tapi Nadia masih berkonsentrasi menyelesaikan bab Penutup untuk proposalnya. Lelah begitu ia rasakan. Ia menggerakkan tulang kepalanya ke kiri dan kanan. Terdengar suara berderak. “Huhh, capek banget hari ini. Udah rapat sesorean hari. Masih aja proposalnya nggak selesai-selesai juga. Lama-lama bisa mati berdiri aku kalau kerjaannya segini banyaknya.”
                Karena begitu kecapekan, Nadia menyudahi pekerjaannya. Ia mematikan laptopnya dan berjalan menuju tempat tidur. Ia mengambil mp3 player di dekat meja belajarnya. Ia putar sebuah lagu dari Marcell yang berjudul Firasat. Kembali ia terlelap dalam bayang-bayang Arya yang hinggap di mimpinya.

                Kemarin kulihat awan membentuk wajahmu
                Desau angin meniupkan namamu
                Tubuhku terpaku semalam
                Bulan sabit melengkungkan senyummu
                Tabur bintang serupa kilau auramu
                Aku pun sadari ku sudah berlari
                Cepat pulang
                Cepat kembali jangan pergi lagi
                Firasatku ingin kau tuk cepat pulang
                Cepat kembali jangan pergi lagi
                Akhirnya bagai sungai yang mendamba samudra
                Ku tahu pasti kemanakan ku bermuara
                Semoga ada waktu sayangku
                Ku percaya alam pun berbahasa
                Ada makna dibalik semua pertanda
                Firasat ini
                Rasa rindukah ataukah tanda bahaya
                Aku tak peduli ku terus berlari
                Cepat pulang
                Cepat kembali jangan pergi lagi
                Firasatku ingin kau tuk cepat pulang
                Cepat kembali jangan pergi lagi
                Dan lihatlah sayang
                Hujan turun membasahi seolah ku berair mata
                Cepat pulang
                Cepat kembali jangan pergi lagi
                Firasatku ingin kau tuk cepat pulang
                Cepat kembali jangan pergi lagi
                Firasatku ingin kau tuk cepat pulang
                Aku pun sadari engkaulah firasat hati

&&&
                “Hai, Nadia. Aku disini.” Teriak Dinda sambil melambaikan tangannya ke arah Nadia yang baru keluar dari pintu kedatangan Dalam Negeri di Bandara Soekarno Hatta. “Dinda.” Nadia melambaikan tangannya dan berlari menarik kopernya menghampiri Dinda. Mereka berduapun berpelukan.
                “Aku kangen.” Ucap Dinda tersedu-sedu karena tangis rasa bahagia yang tak bisa ia tahan. “He’um. Aku juga rindu padamu.” Mereka pun melepaskan pelukan tanda rindu itu. “Bagaimana kabarmu?” tanya Dinda yang sibuk menghapus sisa-sisa air matanya. “Ah, jangan menangis Dinda. Aku juga sangat merindukanmu, tau? Aku baik-baik saja.” Nadia tersenyum dan menggosok-nggosokkan telapak tangannya di punggung Dinda tanda bahwa Nadia begitu senang bisa berjumpa lagi dengan sahabatnya itu. “Ah, kamu ini.” Merekapun tertawa bersama-sama.
&&&
                “Hai.” Sapa Nadia pada Dinda. “Oh, hai.” Sore ini mereka berdua sedang menikmati udara sore di sebuah padang rumput ilalang. Rencananya mereka berdua akan piknik di sana. “Mana bekalnya? Katanya mau kamu bawain?” tanya Dinda bersemangat.
                Nadia tersenyum menggoda, “Tara!!! Ini dia bekal kita.” Nadia memberikan sebuah kotak piknik kepada Dinda yang bertepuk tangan senang seperti anak kecil yang kegirangan diberi permen lollipop oleh orang tuanya.
                “Wah, enak nih kelihatannya. Kamu masak sendiri ya, Nad?” Dinda langsung mencomot sebuah apel dari dalam kotak tersebut dan mulai menggigitnya.
                “Ya, iyalah. Cobain dong, Din. Aku pingin tau menurutmu masakanku gimana?” Dinda mulai mengambil nasi dan lauk yang disediakan oleh Nadia. “Emm,,,” ucap Dinda berdeham sambil terus mengunyah makanannya. “Gimana? Enak nggak? Nggak enak, ya?” tanya Nadia yang pesimis karena melihat raut wajah Dinda yang menjadi serius. Dinda hanya menanggapi ucapan Nadia dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.
                “Yah, padahal kata mama. Masakanku enak.”
                “Hahaha. Bukan hanya enak. Tapi dua jempol untukmu. Kalau perlu empat sama jempol kaki sekalian. Hehehe.” Dinda tertawa melihat Nadia yang kecewa. Nadia langsung memukul-mukul Dinda. “Bercandanya jelek. Huhhh!!”
                “Biarin wekkk. Hemm, ngomong-ngomong kamu belajar masak dari siapa? Aku aja sampai sebesar ini belum bisa masak juga tuh. Paling notok masak nasi. Itu pun pakai rice cooker.”
                “Hah, payah kamu, Din. Gimana mau ada cowok yang naksir kamu kalau gitu caranya?”
                “Ah, masa bodoh sama cowok. Enak jomblo. Kalau nanti ada dokter ahli organ dalam yang naksir sama aku baru aku terima dia. Hahaha.” Ucap Dinda kePD’an.
                Mereka pun larut dalam suasana sore itu. Angin berhembus ria. Menyebarkan bau kering tanah. “Heh, kamu tau nggak kabar terakhir tentang Arya?” kata Dinda tiba-tiba hingga membuat Nadia tersedak.
                “Uhuk…. Uhuk.”
                “Ah, hati-hati dong kalau makan. Nih minum dulu!” Nadia pun meminum air putih yang diberikan Dinda.
                “Aku nggak tau, Din. Sejak Arya pindah kami sudah lost contact.”
                “Kok bisa sih? Padahal seminggu yang lalu dia telepon aku dan bilang kalau kabarnya baik-baik saja di sana. Cuaca di sana dingin terus hanya itu yang membuat dia nggak betah di sana. Dia sering meneleponku paling tidak dua minggu sekali.”
                “Yah, mungkin dia menganggapmu sebagai sahabat dekatnya maka dari itu dia hanya memberitahukan kabarnya kepadamu. Tapi aku senang dia baik-baik saja di sana.”
                “Oh, Nadia. Aku tau kamu begitu merindukannya. Tapi jangan khawatir ada berita bahagia untukmu.”
                “Apa itu, Din?”
                “Dalam seminggu lagi Arya bakal pulang ke Jakarta.” Dan berita itupun membuat Nadia tercengang.
&&&
                “Mengapa kau selalu berpikir bahwa kau bisa melakukan apa saja dengan seenaknya?” Nadia melotot kepada Dinda yang sedang mengemudikan mobilnya dengan tenang. Dinda lantas menoleh dan tersenyum lebar pada Nadia. “Karena aku ini Dinda. Dan Dinda bisa melakukan apa saja sesukanya.” Nadia berekspresi seperti berucap kata Whaat??
                “Kamu tenang aja. Kita pasti sampai tepat waktu.” Merekapun berbelok dari perempatan untuk menuju ke Bandara Soekarno Hatta. “Kau tahu? Kejadian ini sudah berulang dua kali, Dinda. Kau menculikku dan membawaku kabur ke Bandara. Dan alasannya sama yaitu karena Arya.”
                “Diam, Nad. Kita hampir sampai. Lagian ini juga kan yang kamu inginkan. Jangan membohongi perasaanmu sendiri. Kau mencintai Arya. Dan kau sangat merindukannya.” Dinda langsung memarkir mobilnya di depan Bandara. Dinda memutar matanya ke arah Nadia seolah berucap Apa lagi yang kau tunggu?? Dengan tergesa-gesa Nadia keluar dari mobil dan melangkah ke pintu mobil Dinda. “Kau tidak ikut?” Dinda tersenyum dan berkata, “Ini pertemuan dua sejoli yang eksklusif mana mungkin aku mengikutimu. Ayolah, jemput dia!” Nadia menghembuskan napas kesal dan membalikkan badannya untuk berlari ke dalam Bandara. Mana mungkin Dinda mau ikut? Dia kan selalu begitu. Menjadi seorang cupid yang benar-benar menyebalkan!

                Senyumanmu masih jelas terkenang
Hadir slalu seakan tak mau hilang dariku
Dariku
Takkan mudah kubisa melupakan segalanya
Yang telah terjadi diantara kau dan aku
Diantara kita berdua
Kini tak ada dorongan karena dari dirimu
Kini kau telah menghilang jauh dari diriku
Semua tinggal cerita antara kau dan aku
Namun satu yang belum engkau tahu
Api cintaku padamu tak pernah padam
Tak pernah padam
Takkan mudah ku bisa melupakan segalanya
Yang telah terjadi diantara kau dan aku
Diantara kita berdua
Kini tak ada dorongan karena dari dirimu
Kini kau telah menghilang jauh dari diriku
Semua tinggal cerita antara kau dan aku
Namun satu yang belum engkau tahu
Api cintaku padamu tak pernah padam
                By: Sandy Sandoro-Tak Pernah Padam

                Nadia berlari di sekitar area kedatangan luar negeri. Tapi ia tak melihat sosok Arya sama sekali. Ia terus berlari menyisiri area itu. Sampai ia tiba di belakang gerombolan orang-orang yang tengah menunggu kerabat atau seseorang lain di belakang batas besi. Nadia celingukan sendiri di sana. Mana Arya? Aduh dimana sih kamu itu?
                 Seorang ibu-ibu berlari menghampiri seorang pria muda yang berkaca mata. Mereka langsung berpelukan. Tangis bahagia menghiasi wajah ibu itu. Pemandangan yang biasa terjadi di Bandara ketika orang yang kita cintai selamat sampai tujuan tanpa kekurangan sesuatu apapun.
                Nadia berlari berkeliling melewati orang-orang yang berlalu lalang dengan membawa koper dan saling berbicara satu sama lain. Tak sengaja ia menabrak seorang laki-laki paruh baya yang memakai jas dan sedang berbicara dengan rekannya. “Maaf. Maafkan saya. Saya sedang terburu-buru. Permisi.” Dia lantas pergi tanpa melihat orang itu lagi.
                Gerombolan pramugari berjalan di depannya, Nadia pun menerobos mereka tanpa sabar. Seorang pramugari menjerit karena kakinya diinjak oleh Nadia. “Maaf mbak, maaf.” Nadia terus berlari sampai dia melihat seorang laki-laki yang cukup tinggi, berkulit putih, memakai kaca mata hitam, jas hitam dan kemeja putih yang sedang menyeret koper di belakangnya. Nadia berhenti berlari dan tertegun memandang laki-laki itu.
                Laki-laki itu tak tampak asing baginya. Laki-laki itu juga berhenti berjalan saat melihat Nadia. Dia tersenyum di depan Nadia. Jenis senyum yang sangat dikenali Nadia yang selalu hadir disetiap mimpi malamnya. Sedikit kesan sarkatis dan sinis ada di senyum itu. Laki-laki itu melepaskan kaca mata. Air mata mengalir dari pelupuk mata Nadia. Ingin sekali ia berlari dan memeluk pria itu, tapi kakinya tiba-tiba mati rasa dan tak dapat digerakkan. “Arya….” Bisiknya lirih.
                Mereka berdua berjalan mendekat bersamaan. Nadia terus menangis bahagia sedangkan Arya terlalu senang untuk tidak tersenyum pada Nadia. Setelah mereka mendekat Nadia mengangkat tangan kanannya dan menyentuh wajah Arya. Wajah itu yang dia lihat saat pertama kali jatuh karena tertabrak oleh seorang laki-laki. Arya tersenyum dan menggenggam tangan Nadia.
                “Kau menyentuh dan melihatku seperti aku ini arwah untukmu.” Ucap Arya pertama kalinya sejak setahun mereka berpisah. “Arya,” ucap Nadia lirih. Tiba-tiba ekspresinya berubah marah. Lalu tangannya terlepas dari tangan Arya dan dengan kilat menampar pipi Arya.
                “Auh, kau menamparku? Biasanya di film-film seorang wanita yang bertemu dengan orang yang dicintainya akan memeluk orang itu. Tapi kau malah menamparku.” Arya mengelus pipinya yang bersemu merah.
                “Kau meninggalkanku selama setahun. Tak pernah mengirimiku kabar setelah kau tiba di sana. Dan tak pernah mencoba mengirimiku surat sejak kau di sana. Kau pergi begitu saja meninggalkan hatiku yang sepi sendiri dan tak ada yang bisa menggantikanmu di hatiku selama ini.” Nadia marah-marah di depan Arya dan terus menangis sampai Arya memeluknya.
                “Maafkan aku. Aku bodoh. Aku ingin kau bahagia. Dan aku tidak ingin membuatmu menangis karena merindukanku.” Nadia menangis di pundak Arya dan meletakkan kedua tangannya di punggung Arya.
                “Kau tidak bodoh, tapi idiot. Bagaimana bisa kamu bilang aku tidak boleh merindukanmu? Sementara setiap menit dalam hidupku, aku selalu merindukanmu dan memikirkan kabarmu.”
                Arya melepaskan pelukan mereka dan menyeka tangis di pelupuk mata Nadia. “Kau bahagia sekarang?” Tanya Arya. “Iya.” Nadia mengangguk senang dan tersenyum. Mereka pun tertawa dan berpelukan. “Aku juga bahagia.” Ucap Arya berbisik.

                                THE END…

Rabu, 23 Mei 2012

Perjalanan Jogja Kota Pelajar

JOGJAKU


                Dini hari sekitar pukul 03.15 rombongan Departemen Informatika SMK N 1 Tuban sampai dengan selamat di kota Yogyakarta. Kami semua beristirahat dan melakukan sembahyang subuh di salah satu masjid yang megah di kota itu.
                Kelelahan kami serasa terbayarkan dengan beristirahat sebentar disana. Setelah cukup istirahat kami semua melanjutkan perjalanan ke kota Magelang tepatnya kami akan mengunjungi dan sekalian berpariwisata di Candi Borobudur.

                  Rombongan tiba di tempat wisata Candi Borobudur sekitar pukul 06.30. Kami semua sarapan bersama-sama untuk mengawali aktivitas. Menu yang tersedia adalah ayam kecap dan bihun yang udah dingin. Hahaha :) 
                Setelah makan kami langsung menuju Candi Borobudur. Dengan hati ceria kami semua masuk dan berfoto bersama. Wah, ternyata halaman candinya sangat luas. Kami semua sampai kelelahan sebelum mencapai Candi Borobudur.
                Saking lelahnya kejadian yang tidak kami inginkan terjadi. Salah satu teman kami yang bernama Paramita Subhaktini jatuh dari atas Candi hingga mengalami retak di tulang pergelangan tangannya. Semoga lekas sembuh kawan :)

                Dengan kejadian itu teman kami langsung dilarikan ke rumah sakit, tapi kami masih melanjutkan berpariwisata walau rasanya sudah berbeda. Karena salah satu teman kami jatuh sakit.
                Kami semua berjalan berpisah-pisah membentuk kelompok kecil untuk berkeliling di area Candi. Megah banget kawan candinya. Buat kalian yang belum pernah dating kesini. Wajib mencobanya. Udaranya sejuk dan pemandangannya keren :)
                Kami semua berfoto ria bahkan kami mengajak beberapa pengunjung asing untuk ikut berfoto. Senang sekali rasanya bisa berlibur bersama teman-teman.
                Setelah lelah berkeliling kami putuskan untuk keluar dari area candi dan dilanjutkan dengan bershopping ria. Sebelum keluar kami mengunjungi Museum Kapal. Ada salah satu kapal yang terdampar disana, kawan. Kayaknya tuh kapal adalah korban dari gempa Jogja. Hahaha, bercanda. Kapalnya emang khusus diletakkan disana agar para pengunjung bisa melihatnya. Foto lagi deh. :)
                Sampai di pintu keluar kami mampir di pasar untuk membeli oleh-oleh. Harga yang ditawarkan murah apalagi kalau kita bisa menawarnya, pasti bisa lebih murah lagi. Capek banget kawan perjalananku. Tapi kenangan bersama teman-teman nggak akan hilang.
                Nah, itulah seputar kagiatanku berpariwisata di Candi Borobudur. Semoga masih ada waktu buat kesana lagi. Kalian juga yang belum kesana pokoknya harus kesana. Ok. See you latter :)

Rabu, 09 Mei 2012

Biografi Stephenie Meyer

 STEPHENIE MEYER

Tanggal lahir
24 December 1973 , Hartford, Connecticut, USA 24 Desember 1973 , Hartford, Connecticut, Amerika Serikat
Birth Name Lahir Nama
Stephenie Morgan Stephenie Morgan
Nickname Julukan
SteMe SteMe
Steph Steph
Height Tinggi
5' 4" (1.63 m) 5 '4 "(1,63 m)

Mini Biography Mini Biografi
Stephenie born in Connecticut in 1973. Stephenie lahir di Connecticut pada tahun 1973. Her family was settled in Phoenix by the time she was four. Keluarganya tinggal di Phoenix pada saat dia berumur empat tahun. The unusual spelling of her name came from her father, Stephen ( + ie). Ejaan yang tidak biasa namanya berasal dari ayahnya, Stephen (+ yaitu).
 

Stephenie went to high school in Scottsdale, Arizona. Stephenie pergi ke sekolah tinggi di Scottsdale, Arizona. She was award ed a National Merit Scholarship, and she used it to pay her way to Brigham Young University, in Provo, Utah. Dia penghargaan ed Beasiswa Merit Nasional, dan dia menggunakannya untuk membayar perjalanan ke Brigham Young University, di Provo, Utah. She majored in English. Dia mengambil jurusan bahasa Inggris.

Stephenie met her husband, Pancho, when she was four, but they only saw each other weekly through church activities. Stephenie bertemu suaminya, Pancho, ketika dia berusia empat tahun, tetapi mereka hanya bertemu mingguan lain melalui kegiatan gereja. When they finally got around to exchanging words, sixteen years after their first meeting, it only took nine months from the first "hello" to the wedding. Ketika mereka akhirnya sempat untuk bertukar kata, enam belas tahun setelah pertemuan pertama mereka, hanya butuh sembilan bulan sejak pertama "halo" ke pernikahan.


They have been married for ten and a half years now, and have three boys. Mereka telah menikah selama sepuluh setengah tahun sekarang, dan memiliki tiga anak laki-laki. Gabe is eight, Seth is five, and Eli is three. Gabe adalah delapan, Seth adalah lima, dan Eli adalah tiga.

Twilight is her very first novel. Twilight adalah novel pertama. New Moon is the second book in the series, Eclipse the third. New Moon adalah buku kedua dalam seri, Eclipse ketiga. The fourth book Breaking Dawn was released in August 2008. Fajar buku keempat Tempointeraktif dirilis pada bulan Agustus 2008.
IMDb Mini Biography By: xx_vampire IMDb Mini Biografi Oleh: xx_vampire

Spouse Istri
Christian "Pancho" Meyer Kristen "Pancho" Meyer (1994 - present) 3 children (1994 - sekarang) 3 anak

Trade Mark Merek Dagang
Vegetarianism Vegetarisme
Trivia Trivia
Graduated from Chaparral High School in Scottsdale, Arizona, with composer Jason Brandt (Class of 1992). Lulus dari Sekolah Tinggi Chaparral di Scottsdale, Arizona, dengan komposer Jason Brandt (Class of 1992).
She made a cameo appearance in Twilight (2008/I), the film based on one of her books of her best-selling "Twilight" series. Dia membuat penampilan cameo di Twilight (2008 / I), film berdasarkan salah satu buku nya laris nya seri "Twilight".
She also wrote the international bestseller "The Host". Dia juga menulis buku terlaris internasional "The Host".
Stephenie Meyer will be participating in the creation of a new music video for Jack's Mannequin . Stephenie Meyer akan berpartisipasi dalam penciptaan sebuah video musik baru untuk Jack Mannequin . MTV News is reporting that she will "direct the video for "The Resolution", the first single from JM's upcoming album "The Glass Passenger" (due September 30)". MTV News melaporkan bahwa dia akan "mengarahkan video untuk" Resolusi ", single pertama dari album mendatang JM" The Penumpang Kaca "(karena 30 September)".
Frequently uses the names of family members and friends for characters in her books. Sering menggunakan nama-nama anggota keluarga dan teman-teman untuk karakter dalam buku-bukunya.
Has three sons with her husband Christian Meyer - Gabe Meyer (b.1997), Seth Meyer (b.2001) and Eli Meyer (b.2003). Memiliki tiga anak dengan suaminya Christian Meyer - Gabe Meyer (b.1997), Seth Meyer (b.2001) dan Eli Meyer (b.2003).


http://translate.google.co.id/translate?hl=id&langpair=en|id&u=http://www.imdb.com/name/nm2769412/bio 

Selasa, 01 Mei 2012

Friendship is Never End :)


Sahabat Tempat Berbagi


 Temen-temen SMK N 1 TUBAN :D


                Pagi ini kembali Indah mengulang aktivitas sehari-harinya. Bangun pagi-pagi, sholat subuh, mandi, dan turun ke lantai bawah untuk sarapan bersama kedua orang tuanya. Dia anak tunggal dari keluarga yang cukup terpandang. “Hai, sayang. Hari yang indah bukan? Seperti anak mama.” Suara mamanya yang merdu mengalun  dari arah dapur. Indah berjalan cepat menuruni anak tangga dan berlari memeluk mamanya.
                “Yang tepat itu ‘hari yang cantik’ seperti mamaku yang tambah cantik.” Senyum Indah merekah di balik pelukan mamanya. “Hahaha. Anak mama ini bisa saja.” Tak lama setelah itu ayah Indah keluar dari kamar dan berjalan ke arah meja makan. “Pagi ayah.” Indah mencium kedua pipi ayahnya yang dibalas dengan senyuman oleh ayahnya. “Putri ayah tambah cantik aja.” Kata Pak Omar sambil mengampil koran di atas meja.
                Indah pura-pura cemberut menanggapi pujian ayahnya. “Ahh, ayah ngejek Indah, ya??” Indah menarik kursi dan mulai duduk tenang di atasnya. “Kata siapa ayah ngejek Indah? Itu kan kenyataan, sayang?” Indah tersenyum begitupun Pak Omar.
                Bu Omar datang dari dapur dan mulai menata makanan di atas meja. “Aduh-aduh. Ayah sama anak dari tadi kok bicara aja? Emang ngobrolin apa? Mama boleh tau, nggak?” Mama Indah mulai duduk di atas kursi. “Ih, mama mau tau aja sih?”
                “Emang mama nggak boleh tau, ya?” Bu Omar mulai menghidangkan nasi dan lauk pauk untuk suaminya. “Terima kasih, Ma.” Kata Pak Omar. “Emmh, gimana ya?? Nggak boleh ding.” Tawa Indah berkumandang ria. “Dasar anak mama. Ya sudah, sekarang kamu cepetan makan. Nanti malah telat sekolah.”
                “Iya, mamaku sayang.” Indah mulai mengambil nasi dan lauk ke dalam piringnya.
                “Kalau sudah makan. Nanti kamu berangkat bareng ayah ya, Ndah!”
                “Nggak usah, ma. Indah mau berangkat pakai sepeda. Lagian sekolah Indah juga nggak seberapa jauh dari rumah.” Indah tersenyum pada mamanya. “Ya sudah kalau mau kamu begitu.”
^.^#^_^#^o^
                Indah mulai memasuki kelas dengan mengembangkan senyum di pipinya. Riska sahabat dan teman sebangkunya menyambutnya dengan kaget. “Indah, ada apa ini? Kenapa pakaianmu kotor begini?” Riska memegang kedua siku Indah dan memandang Indah dari bawah hingga atas. “Emmh, nggak apa-apa kok, Ris. Ini tadi aku jatuh ke tanah. Aku nggak lihat jalan yang ada lubangnya. Hehehe.”
                “Indah. Indah. Kamu ini kenapa nggak hati-hati?” ucap Riska sambil menggelengkan kepala.
                “Hahaha. Lain kali aku akan berhati-hati, teman.” Indah menggaruk kepalanya dengan canggung.
                Mereka berdua lalu berjalan ke kelas bersama-sama. “Kamu sudah ngerjain tugas Bu Lyla, kan?” Riska memulai perbincangan. “Udah dong. Indah gitu lho.” Senyum Indah bangga. “Nyontek, yak! Hehehe.” Riska tersenyum manis dan menyenggol-nyenggol siku Indah. “Hadeh, anak ini. Kebiasaan nyonteknya nggak ilang-ilang.” Ucap Indah kesal. “Kemarin aku bantuin mama belanja sampe sore, Ndah. Habis itu bantuin kakak ngerjain tugas.” Riska mulai mengeluarkan jurus-jurus rayuan gombalnya. “Riska nggak usah alasan deh. Ngerjain tugas kamu aja belum. Gimana mau ngerjain tugas kakakmu?”
                “He’eh. Iya ya. Hahahaha. Kamu tau aja sih. Peramal ya? Pasti iya deh!”
                “Anak ini.” Indah lalu mengeluarkan buku dari dalam tasnya. Seketika Riska langsung tersenyum penuh kemenangan. “Ihh, Indah so sweet banget deh. Mumumu. Hahaha.” Riska memonyongkan bibirnya ke arah Indah.
                “Riska! Jangan gitu deh!” Indah membalasnya dengan senyuman. Dan merekapun tertawa bersama-sama.
^. ^#^_^#^o^
                Suara canda tawa anak-anak sekolah berkumandang di area kantin sekolah SMA Indonesia, Surabaya. Riska dan Indah berjalan menuju kantin sambil bercanda. “Ingat nggak tadi Dion waktu di kerjain sama Ana. Gila! Lucu banget ekspresinya. Ketakutan smbil geli-geli gimana gitu. Hahaha.” Kata Riska sambil memperagakan ekspresi Dion tadi. Indah tersenyum melihat raut wajah Riska, tapi tiba-tiba senyum itu lenyap. Riska yang sedari tadi berjalan mundur dan mengawasi Indah, setelah melihat wajah Indah yang kelihatan takut Riska langsung membalikkan badannya menuju pandangan Indah.
                 Indah sedang melihat Amara yang juga melihat Indah dengan senyuman puas di wajahnya. “Amara.” Ucap Indah parau dan menghentikan langkahnya. “Indah, kamu kenapa?” Tanya Riska yang khawatir terhadap sahabatnya itu. “Ahh, aku tak apa, Ris.” Jawab Indah dengan senyuman. “Baiklah. Ayo, kalau begitu kita harus makan. Aku lapar nih.” Riska menarik tangan Indah dan menuju salah satu bangku kosong di ujung kantin.
                Saat mereka berdua menikmati makanan tiba-tiba seorang wanita dan kelompok kecilnya menghampiri Indah. Ia menggebrak meja dengan kasarnya. “Astaga!” kata Riska yang kaget karena pentol yang akan dimakannya meloncat keluar dari mangkuk. Indah juga tak kalah kagetnya. Wajahnya pucat pasi melihat seseorang itu. “Amara. Apa-apaan kamu ini? Aku nggak suka ya dengan sikapmu ini.” Riska langsung berdiri dari kursi dan menatap Amara dengan marah.
                “Aku lebih nggak suka lagi dengan temanmu ini. Dulu kau memang temanku, Ris. Tapi sekarang sudah tidak lagi. Kau dan kau juga. Kalian berdua adalah musuhku.” Amara mengarahkan telunjuknya pada Riska dan Indah.
                “Amara, apa salah kami? Berhenti bersikap kekanak-kanakan seperti ini!” kata Riska yang sudah hampir frustasi mengahadapi tingkah Amara.
                “Hai!” tangan Amara kembali menggebrak meja. “Jangan pernah bilang aku kekanak-kanakan. Jaga mulutmu kalau kau ingin selamat. Ayo, kita pergi dari tempat kotor ini.” Titah Amara mengomandai ketiga temannya yang lain.
                “Ciaoo.” Kristin salah seorang teman Amara tersenyum puas dan melayangkan tangan dengan gayanya yang sok.
                “Ahhhhhh……” jerit Riska sambil menggebrak meja dengan kedua tangannya yang mengepal. Kekesalan sangat terlihat jelas di raut wajahnya yang masam.
                “Ris, tenanglah. Tak ada gunanya marah-marah.” Indah berusaha menenangkan.
                “Mereka itu memang keterlaluan, Ndah. Mereka tak pernah berubah. Mereka tak pernah berusaha untuk lebih bersikap dewasa. Mereka selalu saja begitu. Bersikap seolah-olah mereka itu penguasa di sini.” Riska memandang kosong ke arah mangkuk baksonya. “Kau tahu mengapa aku keluar dari geng mereka?” Indah menggelengkan kepala. “Karena mereka tak pernah menghargai orang lain. Dan aku tak ingin bersikap seperti yang mereka lakukan tadi. Aku ingin berubah dan menjadi orang baik.”
                “Tenangkan dirimu, Riska. Kita berdoa saja. Semoga mereka berempat bisa berubah dan bersikap lebih baik lagi. Allah punya rencana-Nya sendiri, teman.” Indah tersenyum sambil menepuk pundak Riska.
                “Kau memang sahabatku yang baik, Ndah. Pasti Allah sangat mencintaimu.”
                “Allah selalu mencintai semua umat-Nya. Allah tak kan pernah membiarkan umatnya tersesat untuk selamanya. Bersabarlah. Doakan yang terbaik untuk mereka berempat.” Mereka berdua lantas tersenyum bersama-sama.
^.^#^_^#^o^
                “Hahhhh….!!!” Jerit Amara sambil membanting kamar tidurnya tertutup. Ia langsung melemparkan tas sekolahnya ke tempat tidur. Kamarnya kacau. Tak tertata rapi. Setiap pagi Bi Darsih yang selalu membereskan kamarnya. Bi Darsih adalah pembantu kepercayaan di rumahnya. Amara lantas menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur.
                “Aku benci. Aku benci sekali padanya. Pada Riska dan terutama Indah. Cewek goblok, lugu, membosankan, dungu. Cewek paling bodoh sejagat raya!” ucapnya marah. Walau ia sendiri tau sebenarnya ia iri terhadap kemampuan Indah. Pesona yang dimiliki Indah. Sehingga banyak orang yang tertarik untuk menjadi temannya. Sementara teman-teman Amara, mungkin jika Amara tidak kaya raya teman-temannya tak kan mau berteman dengannya. Ia sendiri pernah merasa menyesal. Karena ia pernah melukai hati Riska dan membuat satu-satu sahabat terbaiknya pergi dari hidupnya.
                 Amara mengambil handphonenya yang tergeletak di atas meja belajar. Cepat-cepat ia pencet nomor Kristin, Abel, dan Destya. Mereka berempat langsung terhubung dalam satu telepon. “Halo, kalian berempat. Aku pingin keluar rumah. Ayo, ajojingan. Kalian mau ikut nggak?” Tanya Amara pada ketiga temannya.
                “Aku nggak bisa, sayang. Mama ngajak pergi ke rumah tante.” Jawab Destya.
                “Payah banget sih loe, Des.”
                “Sorry deh.” Destya langsung menutup teleponnya.
                “Aku juga nggak bisa, Mar. Lain kali aja, ya? Lagi ngerjain tugas Bu Wuri nih.” Kini Abel yang menjawab.
                “Hello, Abel sayang. Ngapain sih loe ngerjain tugas. Ngerjain di sekolah kan juga bisa! Ah payah loe.” Sambungan telepon pun terputus.
                “Mara, loe nggak usah marah-marah gitu kali. Gue bisa temenin loe. Mau ajojingan dimana?” jawab Kristin. “Loe bisa nemeni gue, Kris? Oke deh. Gue jemput di rumah loe, ya?”
                “Oke. Kita ke CafĂ© Rion aja, gimana?”
                “Umm, oke deh. See you.”
^.^#^_^#^o^
                Indah membawa sepeda kesayangannya dengan gembira. Sabtu pagi memang terasa sejuk. Seperti biasa ia berangkat sekolah ditemani dengan sepeda kesayangannya. “Heh, Jalang. Minggir loe! Dasar KAMSEUPAY loe! Hahaha.” Tiba-tiba sebuah mobil Mercedes berwarna hitam menyerempet Indah dari samping. Indah hampir saja terjatuh, tapi untung dia masih bisa menjaga keseimbangannya.
                Samar-samar ia bisa melihat wajah orang yang tadi menyerempetnya. “Amara.” Kata Indah kaget sambil masih terguncang karena kejadian tadi. “Apa benar dia Amara? Kalau benar, aku harus cepat-cepat mengatakan hal ini pada Riska.
                Sesampainya di sekolah Indah berlari dengan cepat menuju kelas. “Riska. Riska!” teriaknya sambil memasuki ruang kelas yang masih sepi. Hanya ada tiga anak di dalamnya, tapi beruntung Riska sudah ada di bangku duduk mereka. Sambil masih ngos-ngosan Indah duduk di bangku mereka.
                “Indah, kamu kenapa? Kok lari-larian nggak jelas gitu?”
                “Amara, Ris. Amara.” Katanya terengah-engah.
                “Tarik napas dulu, Ndah.” Indah menarik napas panjang. Setelah Indah tenang, ia kembali menceritakan semua kejadian yang baru saja dialaminya.
                “Apa? Kamu ketemu Amara di jalan? Dan Amara hampir menyerempetmu?”
                “Hemm, iya, Ris.” Ucap Indah ragu. “Ris, kita harus bicara pada keluarga Amara. Agar mereka tidak mengkhawatirkan Amara. Setidaknya Amara baik-baik saja.”
                “Amara sudah menghilang dari seminggu yang lalu. Iya, kita harus laporkan ini pada keluarganya. Ayo, Ndah!!” merekapun bergegas menuju rumah Amara.
^.^#^_^#^o^
                 Malam sekali Indah baru pulang dari rumah Amara. Di sana tadi ia berbincang-bincang dengan kedua orang tua Amara yang tampak cemas apalagi Mamanya. Mama Amara sangat terguncang karena kehilangan putri tunggalnya. Kedua orang tua Amarapun menceritakan semua yang dialami Amara. Semenjak kecil Amara adalah anak yang suka dimanja oleh kedua orang tuanya. Semua yang dimintanya selalu terpenuhi. Apapun itu, kedua orang tuanya selalu menurutinya karena mereka sadar. Mereka tak punya waktu untuk bersama Amara.
                Mamanya menangis setiap hari karena putrinya yang hilang. Ia menyesal kenapa bisa jadi begini. Tapi semua sudah terlanjur. Mereka semua tak tau dimana Amara kini berada. Mama dan Papanya maklum bila Amara bersikap egois dan selalu membuat onar.
                Saat mengolah sepedanya, di jalan Indah melihat sesosok perempuan berjalan dengan terseok-seok di atas trotoar. Cahaya yang suram membuat wajah orang itu samar-samar terlihat. Tapi saat orang itu mulai mendekat Indah tau itu siapa? “Amara.” Indah langsung mendekat ke trotoar dan menjatuhkan sepedanya.
                Amara yang kelihatan lemas tiba-tiba saja jatuh. “Amara. Amara. Bangun, Amara. Apa yang kau lakukan di sini malam-malam begini?” Indah mengguncang-ngguncang tubuh Amara. Indah sadar tubuh Amara semakin kurus. Dia sangat ringan seolah-olah Indah bisa menggendongnya.
                “Kau, siapa kau?” Tunjuk Amara ke wajah Indah, tapi mata Amara sedikit terpejam. Dia mabuk. Baru berfikir begitu tiba-tiba saja keluar busa dari mulut Amara. “Amara, kau kenapa?” jerit Indah yang khawatir. Indah menengok kanan dan kiri jalan, tapi tak ada satupun kendaraan yang lewat. “Amara, bertahanlah!”
                “Siapa kau?” jerit Amara kasar. “Tidak penting siapa aku! Kau sedang sakaw. Kau tak bisa bertahan lebih lama lagi kalau kau tidak di obati.” Ucap Indah yang semakin kalut. “Aku tak butuh obat! Aku butuh uang!” kata Amara sambil berusaha menggerakkan badannya, tapi gagal Amara terjatuh lagi. Indah langsung membopong gadis itu. “Kau gila!” bentak Amara. “Naik ke punggungku! Sebelum kau mati kocak di sini! Cepat naik!” perintah Indah yang masih memegangi tubuh Amara. “Aku tak mau!” tapi Indah tetap menggendong Amara. “Rumah sakit 1 km lagi. Bertahanlah Amara. Kau pasti selamat.” Amara sudah tak sadarkan diri sejak saat itu.
                 Dengan gesit dan cepat Indah langsung berlari menuju Rumah Sakit. Sepeda kesayangannya ia tinggal begitu saja di jalanan. “Allah, jaga temanku ini. Jangan ambil dia dari semua orang yang menyayanginya.” Doa Indah dalam hati.
^.^#^_^#^o^
                Seminggu sudah Amara dirawat di Rumah Sakit. Keadaannya mulai membaik. Sejak seminggu dulu ia menghilang, Amara mengkonsumsi narkoba dan minuman keras. Tapi untung saja Indah cepat membawanya ke Rumah Sakit. Setelah keluar dari Rumah Sakit Amara harus menjalani rehabilitasi di suatu tempat. Cerita memalukan dialami oleh SMA Indonesia, Surabaya. Kristin (sahabat Amara sendiri) yang membuat Amara mencoba narkoba. Ia adalah pengedar narkoba yang sekarang sudah diamankan oleh polisi.
                Hari minggu ini, Riska dan Indah menjenguk Amara di panti rehabilitasinya. Mereka menemui Amara yang sedang duduk di bangku dekat pohon. Rupanya ia sedang menikmati udara sore hari. “Hai, Amara.” sapa Riska. Amara pun menoleh padanya. “Riska.” Ia langsung memeluk sahabat lamanya itu. “Indah, kau datang juga.”
                “Amara, bagaimana keadaanmu?” Tanya Indah sambil tersenyum. “Aku…, seperti yang kalian lihat. Semakin hari semakin baik.” Katanya. “Duduklah!” Mereka bertiga lantas duduk bersama.
                “Indah, aku ingin berterima kasih padamu. Kau telah menolongku. Aku sadar aku begitu jahat padamu dulu. Aku harap kau bisa memaafkanku.” Ucap Amara menyesal. “Amara, manusia itu tempatnya salah. Tak ada satupun makhluk Allah yang sempurna. Akupun sudah memaafkanmu.”
                “Kau baik sekali, Indah. Benar kalau Riska menyukaimu dan memilihmu sebagai sahabatnya. Ia benar telah meninggalkanku.” Kata Amara sambil tersenyum. “Amara, aku tak meninggalkanmu. Aku hanya ingin kau berubah menjadi lebih baik lagi.  Kau tetap sahabatku, kawan. Kita bertiga sekarang bersahabatkan?” mereka tersenyum. Riska menaruh kedua lengannya di pundak kedua sahabatnya masing-masing.
                “Hahaha, tapi sepertinya aku harus mengulang kelas lagi.” Ucap Amara sedih.
                “Tenang, kawan. Kami akan selalu menghibur dan ada untukmu. Kami akan menyemangatimu hingga akhir. Ya kan, Ndah?” Riska menoleh pada Indah. “Tentu saja. SEMANGAT!” teriak Indah. Indah bangun dari duduknya dan mengacungkan kepalan tangannya ke atas udara.
                “Amara, SEMANGAT.” Riska pun ikut bangun. “Benar kata Indah, SEMANGAT!” mereka bertiga pun tertawa bersama. Senja mulai menghilang di ujung cakrawala. Menyisakan tangis kebahagiaan pada ketiga sahabat itu. 



























  
The End

By     : Aulia Eka Putri P.

Total Pageviews

Poll

Followers

About Me

Foto saya
Hai, aku Aulia Eka Putri Purnama. bisa dipanggil Al. duduk di kelas XI-MM di SMKN 1 Tuban. :))